jump to navigation

SURAT DARI AJI BANDUNG Februari 4, 2008

Posted by jrki in Artikel & Opini.
trackback

Bandung, 26 Januari 2008

Nomor: 001/AJI-Adv/ALERT/I/2008

 Hal : Fax ALERT

 Kepada Yth.
Teman-teman Jaringan
Di tempat

 Salam solidaritas,

Seperti diketahui, pada Tanggal 15 Januari 2008, Redaksi Radio Mara terpaksa dibubarkan karena alasan keuangan perusahaan serta rating yang buruk untuk program berita. Akibatnya, 7 orang jurnalis harus di-PHK. Kabar ini tentunya sudah diketahui oleh teman-teman. 
Melalui surat ini, kami atas nama Pengurus Aliansi Jurnalis Independen Kota Bandung (AJIB), mengucapkan terima kasih atas ungkapan solidaritas yang disampaikan teman-teman secara pribadi kepada teman-teman Redaksi Radio Mara Bandung, baik melalui e-mail atau SMS. 
Keprihatinan kita tentunya, bukan saja pada nasib ke-7 orang jurnalis yang di-PHK, tetapi pada hilangnya fungsi Redaksi di Radio Mara yang selama telah menjadi jembatan informasi dari grass root ke suprastruktur politik, baik tingkat Kota maupun Propinsi.

Untuk itu, AJIB mengajak teman-teman untuk membantu memberi semangat kepada manajemen PT Radio Mara agar mau mengembalikan keberadaan fungsi tersebut. Dengan mengirim fax keprihatian kepada PT Radio Mara, diharapkan mereka dapat mengetahui bahwa program berita di media penyiaran juga adalah kebutuhan publik yang esensial tidak melulu hiburan. 
Demikian surat kami, bantuan teman-teman akan berguna bagi masa depan industri penyiaran yang sehat dan pro-rakyat.
Nomor fax Radio Mara adalah 022-7307471. Kami berharap, sebagai dokumentasi, teman-teman juga mengirim fax ke sekretariat AJIB ke nomor 022-4261548.

Hormat kami, 

Ahmad Yunus

Ka.Div.Advokasi AJIB (HP: 08122307466)

 

LATAR BELAKANG KASUS MARA

 

Bandung, 1968. Radio Mara memulai siarannya dengan tidak biasa, seperti radio lainnya. Radio ini memenuhi udara Kota Bandung yang dingin saat itu, dengan celotehan “pedas” yang bikin panas telinga.

 

Radio Mara sejak awal memang menjadi tempat berkumpulnya orang-orang kritis daripada tempat berkumpulnya para calon selebritis. Sejumlah nama bisa mewakili kenyataan itu. Para penyiar pertama di Radio Mara biasa disebut dengan panggilan Abang, di antara mereka adalah Bang Kalong alias Jenderal HR Darsono, Bang Buyung alias Adnan Buyung Nasution, Bang Belo alias Moh.S.Hidayat.

 

Sebagian besar siaran, penuh dengan perbincangan bergaya “sekenanya”. Bahkan menurut aktor kawakan Moh. Sunjaya yang bergabung di Radio Mara sejak 1971, ”Abang-abang Mara” ini lebih sering “ngaco”. Gaya ini terus mempengaruhi siaran Mara hingga saat ini dengan penyesuaian-penyesuaian  jaman dan menjadi ikon Bandung.

 

Selanjutnya, Radio Mara mulai mengembangkan kapabilitasnya untuk menyalurkan kritik, melalui informasi yang faktual dan seimbang serta diproduksi sendiri. Pada tahun 1979, Radio Mara menjadi motor sebuah pilot project lembaga produksi siaran (LPS) informatif yang disiarkan oleh seluruh radio swasta di Jawa Barat. Komando project ini dipercayakan Pengurus Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) kepada Moh. Sunjaya. Kantor redaksinya berada ini berada di ruang studio Radio Mara.

 

Sejak itu, Radio Mara mengembangkan kemampuannya merangkum peristiwa dan menampung aspirasi rakyat langsung. Tradisi jurnalisme radio mulai dibangun.

 

Pendengar Mara mungkin ingat ketika Tembok Berlin diruntuhkan pada 1989. Mara boleh dibilang menjadi media pertama di tanah air yang menyiarkannya secara langsung. Almarhum Yun Zaenuddin, reporter senior Mara yang sedang berada di Jerman Barat, melaporkannya secara langsung dari lokasi.

 

Namun upaya Radio Mara mengembangkan jurnalisme radio melalui LPS, kandas oleh represi rejim yang memang masih kuat saat itu. Suatu saat, di Bulan Agustus 1991, LPS menyiarkan aksi demonstrasi mnahasiswa anti-SDSB di Bandung dengan memuat suara-suara sirene dan tembakan aparat dari tempat kejadian.

 

Melalui tangan militer, LPS dibubarkan bersama awak redaksinya, seperti Muh.Sunjaya, Noor Achirul Layla, Nursyawal, Leila Fauziah dan Tedy Nawardin. Mereka kemudian membangun fondasi redaksi sendiri di Radio Mara secara diam-diam dan tak menyebut siarannya sebagai siaran berita. Namun diperkenalkan kepada publik dengan istilah siaran informasi. Untuk ini, manajemen Radio Mara dipercayakan kepada Noor Achirul Layla.

 

 

1

Untuk mengembangkan sumber daya reporternya, Radio Mara mengirimkan reporter berbakat untuk magang di Radio Deutsche Welle, Jerman, sejak 1987 sebagai bagian

dari program kerja sama bilateral. Sementara mereka yang tak ke luar negeri, berkesempatan mengikuti kursus-kursus singkat di Bandung dengan petatar dari Jerman. Seperti pada tahun 1991 dengan mendatangkan instruktur Walter von La Roche, seorang newscaster Eropa yang terkenal dengan konsep mini-feature radionya.


Tapi Radio Mara tidak pelit berbagi ilmu. Thomas Kirschning dan Wolfgang Weisse dari Deutsche Welle yang diminta Radio Mara pada tahun 1992 untuk memberi strategi dalam membangun redaksi, juga mengikutsertakan sejumlah radio swasta di Indonesia, seperti Radio Suara Surabaya, untuk ikut berkiprah dalam membangun jurnalisme di radionya. Walau setelah pelatihan itu, tetap tidak ada yang berani melakukannya kecuali Radio Mara.  

 

Sumber daya manusia didalamnya jelas diarahkan ke sana, melalui waktu yang panjang, biaya, keringat, pengorbanan. Hasilnya, setidaknya untuk lingkup Bandung, Mara dapat dikatakan paling siap dalam penyiaran berita.

 

“Siaran Mara relatif lebih dewasa dibanding radio-radio lain,” puji Masduki Attamami, kepala Antara biro Bandung. Ia terbiasa memonitor siaran radio untuk mengukur isu apa yang berkembang di Bandung, guna ditindaklanjuti oleh para wartawannya.

 

Seiring perubahan politik pada Tahun 1998, Radio Mara kembali berusaha mengajak radio lain mengembangkan jurnalisme radio, dengan membantu Institut Studi Arus Informasi (ISAI) mendirikan Kantor Berita 68H. Setahun kemudian, masih bersama ISAI, Radio Mara membangun Redaksi sendiri dengan kekuatan 20 orang.


Tradisi jurnalisme yang terbangun lama menyebabkan redaksi ini memiliki independensi tinggi dalam mengolah dan menyajikan berita. Ini bukannya pengakuan sepihak. Tak kurang PRSSNI selalu menjatuhkan pilihannya pada Mara untuk jadi semacam crisis center atau rumour clinic manakala muncul peristiwa-peristiwa penting. Peristiwa semacam Sidang Istimewa MPR 1999, bisa dijadikan contoh.

 

“Kita tunjuk Mara,” kata Yodhaswara, sekretaris PRSSNI Bandung, “sebab Mara kita anggap capable. Mara telah menunjukkannya pada saat pemilu 1999 lalu.” Di luar itu, kurangnya tenaga reporter di hampir semua stasiun radio bisa dijadikan latar alasan. Mara sendiri sampai pada tahun 1999 memiliki sekurang-kurangnya 20 reporter.

 

Namun dalam perjalanannya, seiring perubahan lanskap media karena munculnya banyak TV swasta, yang berpengaruh pada billing iklan nasional, Redaksi Radio Mara mulai kesulitan keuangan. Manajemen mengambil kebijakan untuk melakukan penghematan. Setelah tertatih-tatih sejak 2006, akhir tahun 2007, Radio Mara memutuskan untuk menutup Redaksinya untuk menyelematkan perusahaan.

 

 

2

Radio Mara harus rela melepas semua mimpi, upaya dan keringatnya, karena tidak berhasil mengembangkan strategi bisnis untuk membiayai kegiatan jurnalismenya. Pada tanggal 15 Januari 2008, Radio Mara membubarkan tim redaksi yang tersisa 7 orang, dari 20 orang di tahun 1999.

 

 

Krisis ini kemudian juga mendorong pemilik saham menunjukkan pimpinan baru yang kemudian mengambil alih semua kebijakan. Ditemani tim konsultan, pimpinan baru menawarkan konsep PHK kepada 75 persen karyawan tetap Radio Mara, dan menawarkan ikatan kerja kembali berbentuk kerja borongan dengan plafond bujet bulanan untuk setiap pekerjaan.

 

Kehilangan Redaksi Radio Mara adalah kehilangan ruang untuk berkomunikasi, berdialog, bertanya, mengkritik dan memberikan solusi atas kepentingan publik. Ruang yang selama ini telah memberikan akses pada warga untuk menyampaikan aspirasi. Ruang publik Mara selama ini layaknya gedung perwakilan rakyat.

 

AJIB merasa sedih atas ditutupnya ruang redaksi Mara ini karena juga berdampak lebih besar. Jurnalisme Radio di Indonesia semakin mundur. Kami mengimbau kawan-kawan untuk memberikan pernyataan keprihatinan ini seperti contoh yang kami lampirkan. 

 

Kami mohon untuk menyampaikan surat keprihatinan ini melalui fax Radio Mara ke nomor [ 022-7307471] dan Aji Bandung ke nomor [ 022-4261548] untuk keperluan dokumentasi.

 

Kami juga akan menggelar diskusi terbuka berkaitan dengan tema ini. Undangan akan kami sebarkan segera.

 

Terima kasih atas dukungan dan kerjasamanya.

 

Kontak Person:

Agus Rakasiwi  02270422998

Zaky Y 081572251592

Rana A 08122119501

 

e-mail ajibandung et yahoo.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3
Contoh Fax Alert

 

Kop Surat masing-masing lembaga



Bandung

Nomor  :

 

Hal  : Ungkapan Solidaritas

 

Kepada Yth.

Direktur PT Radio Mara Ghita

Di Bandung

 

Kami sudah mendengar kabar tentang ditutupnya Redaksi Radio Mara.

 

Terus terang, berita ini mengagetkan sekaligus menyedihkan. Selama ini, Radio Mara terbukti telah berkontribusi sebagai ruang pemikiran, pendidikan, dan pertukaran informasi di antara masyarakat kota Bandung. Radio yang tidak hanya berkutat pada hiburan saja.

 

Kami berharap, Radio Mara tetap menjalankan fungsinya sebagai radio yang membuka akses pada publik seluas mungkin. Dan menyiarkan informasi yang bermutu. Juga mengelola manajemen dan kemampuan finansialnya secara sehat.

 

Simpati kami pada teman-teman redaksi Radio Mara yang terkena PHK. Semoga manajemen Radio Mara memberikan hak-hak normatif mereka dengan benar.

 

 

Salam solidaritas

 

Ttd

 

Lembaga

 

 

 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: