jump to navigation

Radio Komunitas Mengawal Demokrasi Desa Desember 6, 2007

Posted by jrki in Uncategorized.
trackback

Oleh: Sinam M Sutarno

Pendahuluan

Demokrasi merupakan cara dan praktek yang telah menjadi konsensus bersama untuk menata dan membangun masyarakat yang berkeadilan. Namun sayangnya demokrasi pada kenyataannya masih menjadi milik dari elite elite semata dan masih jauh dari rakyat yang seharusnya memiliki kedaulatan.

Desa merupakan laboratorium demokrasi yang sekaligus juga implementasi demokrasi yang paling mendasar. Bagaimana tidak, proses suksesi kepemimpinan yang pada level nasional  yang baru pertama kali dilangsungkan ternyata sudah sejak lama itu terjadi di  desa. Dan memang sebenarnya banyak nilai nilai dan praktek demokrasi yang sudah berjalan di desa. Namun disisi lian penghancuran demokrasi juga sudah berlangsung di Desa sejak lama pula. Sebut saja pola politik masa mengambang (floating mass) yang diterapkan ORDE BARU membuat orang desa sedikit mengenal politik dan cenderung depolitisasi. Slogan slogan politik kotor dan kejam menjadi makanan yang hampir tiap hari di dengar oleh warga desa padahal para pelaku politik sedang menikmati enaknya politik.

Untuk memberikan informasi kepada masyarakat kemudian oleh pemerintah diselenggarakan kelompencapir (kelompok pendengar, pembaca dan pirsawan) namun media yang ada, dalam pengaruh dan kendali kuat pemerintah. Praktis masyarakat hanya mendapatkan informasi yang memang disediakan oleh pemerintah yang ditanggung tidak akan menjadikan rakyat kritis dan tetap BUTA DEMOKRASI.

Sebagai pemerintahan yang paling dasar dan terkait langsung tata kehidupan masyarakat namun pada kenyataaannya desa masih sangat marginal dalam peran dan kebijakan. Semua yang terjadi di Desa mayoritas di pengaruhi oleh kebijakan dari pemerintahan diatasnya. Padahal desa sebenarnya memiliki otonomi asli dimana telah melekat sejak desa itu menjadi pemerintahan.

Upaya penguatan desa mutlak di perlukan untuk mengelola potensi warganya dan mendistribusikan semua sumberdaya secara adil melalui proses yang demokratis.

 

Demokrasi dan Kesejahteraan

Untuk membangun desa yang demokratis di butuhkan prasyarat yakni, masyarakat yang sadar hak, memahami kebutuhannya, memiliki kemampuan untuk mengaktualisasikan ide dan gagasannya, dan yang lebih utama adanya partisipasi dalam proses penyelenggaraan pemerintahan.

Partisipasi ini tentunya bukannya kerelaan hati warga mendermakan apa yang dipunyai (gotong royong), tetapi adanya kepastian bahwa proses dan hasil dari pembangunan di desa memang dari, oleh dan untuk masyarakat desa.

Jadi disini jelas bahwa demokrasi dan kesejahteraan warga bukan sesuatu yang terpisah, dan tidak boleh ada yang dinomor duakan sebagai mana yang akhir akhir ini dilontarkan oleh Ketua Partai Golkar yang juga Wakil Presiden kita bahwa demokrasi bisa di nomorduakan setelah kesejahteraan.

Lahirnya reformasi politik direspon banyak kalangan sebagai upaya untuk mengawal proses demokrasi yang menyejahterakan rakyat. Tak ketinggalan aktifis aktifis desa yang memiliki kepedulian demokratisasi desa mulai merancang sebuah media warga yakni Radio Komunitas.

Radio komunitas lahir menjadi salah satu sarana bagaimana demokrasi akan sebenar benarnya berjalan sesuai dengan kehendak mayoritas yang saat ini justru menjadi minoritas dalam perannya. Bukannya berlebihan jika harapan ini menjadi dasar pijakan kenapa harus ada radio komunitas di tengah – tengah masyarakat rentan.

Tanpa harus menyalahkan media yang telah banyak membawa masyarakat kedalam belenggu kebutaan informasi, radio komunitas hadir memberikan arti bagi yang tidak dianggap berarti, mengangkat masalah yang selama ini diremehkan, membahas nilai nilai yang selalu dianggap usang oleh arus modernitas.

Disinilah Radio Komunitas bisa menjadi saluran komunikasi yang bersanding dengan media media komunikasi yang lain seperti rapat RT, Musbangdes, papan pengumuman di desa dll.

 

Peran strategis Rakom mendorong demokrasi desa.

Radio komunitas sebagai media yang memiliki basis  komunitas yang jelas tentu sangat banyak sekali peran strategis yang bisa dilakukan di dalam menegakkan kembali nilai dan praktek demokrasi. Bicara demokrasi desa tentu tidak sekedar pemilihan kepala desa, BPD (Badan Permusyawaratan Desa) tetapi bagaiaman sebenarnya makna kedaulatan rakyat desa itu terwujud dalam penyelenggaran tata kepemerintahan desa. Dalam hal ini setidaknya ada beberapa fungsi dan peran yang bisa jalankan oleh radio komunitas.

 

a.      Menjadi media penyadaran hak

Sebagai manusia, hak asasinya telah melekat sejak dia lahir di dunia atau justru semenjak dalam kandungan. Namun tidak semua warga atau malah dalam jumlah yang banyak bahwa hak yang dimiliki tidak semua difahami dengan baik. Hal ini selain karena memang minimnya akses terhadap regulasi yang menjamin hak hak mereka tetapi pola Orde Baru yang memaksa rakyat patuh pada penguasa kalau tidak pingin disebut makar, subversif dll.

Dengan diratifikasinya kovenan internasional tentang hak sipil politik kedalam UU No 12 tahun 2005 dan hak ekonomi sosial budaya ke dalam UU No 11 Tahun 2005 perlu sekali diketahui rakyat secara luas melalui radio komunitas tentu dengan kemasan acara yang lebih disukai oleh komunitas setempat.

 

b.      Mendorong suksesi kepemimpinan desa yang demokratis

Pemilihan kepala desa (Kuwu, Perbekel, Lurah Desa dll) sering kali orang hanya bicara tentang siapa yang akan jadi pemimpin, tapi bukan apa yang dilakukan oleh calon pemimpin. Dengan demikian masyarakat hanya terjebak dalam kerangka berfikir pragmatis.

Pengalaman Radio Komunitas MMC (Merapi Merbabu Community) fm di Desa Samiran, Selo, Boyolali menyelenggarakan dialog dengan menghadirkan para calon kepala desa adalah satu terobosan yang cukup menarik. Masyarakat diajak mengenal calon dengan melihat sejauhmana kemampuannya, ide gagasannya serta yang terpenting adalah komitmennya terhadap pembangunan desa. Disini justru rakom bisa memberi ruang kampanye program kepada semua calon sehingga masyarakat bisa mengukur sejauhmana kualitas para calon.

Sebagai salah satu tahapan dari proses pelaksaan pilkades adalah pemaparan visi misi calon yang dilaksanakan di Aula Balai Desa Samiran. Ini adalah proses yang lebih maju dari pelaksanaan Pilkades tahun sebelumnya dimana kampanye masih bersifat monolog. Kali ini semua calon menyampaikan gagasan untuk pengembangan di desanya.

Disinilah muncul kebutuhan bahwa siapa yang akan mendokumentasikan apa yang menjadi komitmen kepala desa? Apakah semua warga yang mendengarkan akan mengingatnya? Rakom tentunya menjadi penting adanya untuk mendokumentasikan dengan baik dan tentunya kedepan akan selalu diingatkan kepada masyarakat sebagai nota tagihan kepada calon terpilih.

 

c.       Media komunikasi pemerintah desa dan warganya

Penyelenggaraan pemerintahan desa menuntut adanya komunikasi yang baik antara pemerintah sebagai penyelenggara dan masyarakat sebagai pemilik kedaulatan. Sudah barang tentu yang dimaksud bukan komunikasi model dahulu dimana rakyat hanya menjadi penerima pesan tetapi tidak ada kesempatan untuk mengkritisi pesannya atau apalagi menyampaikan suaranya.

Dalam hal inilah rakom memiliki arti penting untuk mempertemukan antara kebutuhan warga dan apa apa yang sedang dilakukan oleh pemerintah desa. Sebagaimana yang dilakukan oleh Radio Angkringan yang ada di Desa timbulharjo menyelenggarakan siaran langsung tentang Laporan Pertanggungjawaban Lurah Desa., Rapat Badan Perwakilan Desa dan kegiatan yang lain. Dengan ini maka warga yang ada di rumah dapat mengetahui apa yang sedang di bahas di kantor desa dan kemudian akan merangsang adanya respon dari warga baik yang berupa kritikan, sanjungan, atau bahkan hujatan.

Dialog dialog yang memberikan ruang komunikasi antara pemerintah desa dan masyarakat ternyata mampu membuka tabir keangkeran kekuasaan.

 

d.      Menyuarakan suara si Miskin

Proses perencanaan pembanguna desa sebenarnya sudah mulai memberikan ruang keterlibatan kepada masyarakat. Namun demikian kalau mau dilihat lebih dalam sebenarnya kualitas keterlibatannya masih pantas di pertanyakan. Coba aja kita lihat apa apa yang dihasilkan oleh perencanaan pembangunan di desa. Yang paling banyak muncul adalah pembangunan jalan, jembatan, gorong – gorong atau sarana fisik yang lain. Padahal kalau kita tanya kepada kelompok miskin ternyata kebutuhan mereka adalah menyekolahkan anak, modal usaha kecil, atau sarana pertanian. Yan aneh kenapa tidak nyambung antara kebutuhan dan program pembangunan

Ternyata yang terjadi bahwa yang sering telibat dalam permusyawaratan adalah tokoh tokoh desa dan sedikit melibatkan warga miskin. Akibatnya yang muncul adalah kebutuhan orang orang kaya di desa itu yang ternyata sudah memiliki motor, mobil, dll. lalu siapa yang akan menyuarakan kepentingan si miskin? Jawabnya jelas bahwa yang menyuarakan adalah si miskin itu sendiri. Dan rakom bisa menjadi salurannya baik dengan reportase langsung atau penyelenggaraan dialog – dialog yang konstruktif dan jelas pemihakanya pada kaum miskin.

Komentar»

1. yono - Desember 10, 2007

apa kabar

2. Anton - Februari 11, 2008

Bung Sinam, ceritanya menarik. Terima kasih. Selamat atas “terobosan” demokrasi yang dilakukan Radio MMC, Selo, Boyolali. Semoga upaya ini menjadi pintu bagi kesejahteraan bersama di Desa Samiran, Selo, Boyolali. Semoga Radio MMC dan rakom2 lainnya maju terus.

Salam

Anton Birowo
Ilmu Komunikasi
Universitas Atma Jaya Yogyakarta

3. INFO BAGUS « Relawandesa’s Weblog - Mei 25, 2008

[…] Radio Mengawal Demokrasi Desa […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: