jump to navigation

Tragedi Manusia dan Kemanusiaan Juli 17, 2007

Posted by jrki in resensi buku.
trackback

MR Siregar

Semenjak Orde Baru lahir, kaum Kiri di Indonesia selalu menerima stigma yang buruk dan kejam dari dituduh sebagai pemberontak, pengkhianat bangsa hingga dicurigai sebagai tak bertuhan dan tak bermoral. Tuduhan itu terutama dialamatkan sejak terjadinya Peristiwa Madiun hingga peristiwa G30S. Bukan hanya iu, peranan kaum Kiri dalam sejarah pergerakan dan kemerdekaan Indonesia juga dianihilasi dan dihilangkan. Propaganda dan stigmatisasi itu menjadi semacam ‘politik ingatan’ yang terus dibangun dan dipupuk melalui film-film, khutbah-khutbah agama, serta pernyataan-pernyataan penguasa dan terjadi hingga kini. Pendeknya, menulis sejarah dari sudut pandang kaum Kiri sendiri mengenai peristiwa-peristiwa tersebut adalah (di) haram (kan). Karena itu, upaya untuk menyelidiki secara kritis dan berimbang atas peristiwa-peristiwa tersebut dan implikasinya bagi negeri ini seperti tertutup awan gelap.

Buku karangan MR Siregar, Tragedi Manusia dan Kemanusiaan, berupaya untuk menyibak awan gelap tersebut. Ia berupaya membongkar tabir gelap dalam Peristiwa Madiun hingga Peristiwa G 30 S, dimana ratusan ribu kaum komunis dan mereka yang distigmakan sebagai komunis dibunuh, dibantai, dan diperlakukan sebagai paria. Buku ini mencoba menelisik ulang beberapa peristiwa yang mendahului lahirnya drama subuh 1
Oktober (G 30 S) itu di antaranya adalah munculnya militer sebagai kekuatan dominan (dalam istilah penulis buku ini militer menjadi “negara dalam negara”) yang tampil di bidang politik dan ekonomi di negeri ini.

Sebagai hasil akhir dari peristiwa G 30 S itu adalah lahirnya negara
Orde Baru yang bersifat fasis dan bercorak kapitalis. Bersifat fasis
sebab Orde Baru dibangun dengan cara-cara totaliter dan  militeristik,
dan bercorak kapitalis sebab sejak saat itulah ekonomi Indonesia mulai
diintegrasikan dengan kapitalisme internasional. Hasilnya, Orde Baru
menjadi sebuah rejim yang korup, represif, dan eksploitatif terhadap
lingkungan hidup dan kehidupan rakyatnya.

Tema-tema itulah yang menjadi pokok kajian dalam buku ini. Dengan
kecermatan dan kekayaan data yang luar biasa, penulis buku ini
membongkar aktor sesungguhnya dari peristiwa G 30 S, menyajikan
berbagai dusta sejarah dan kekejaman Orde Baru, serta menelaah
akibat-akibat struktural dan kultural dari lahirnya negara Orde Baru.

Jika dibaca bersama dengan buku yang lain, yaitu Yang Berlawan:
Membongkar Tabir Pemalsuan Sejarah PKI, karya Imam Soedjono (Resist
Book: 2006), buku Tragedi Manusia dan Kemanusiaan ini dapat menjadi
bacaan yang baik tentang seluk-beluk persitiwa G 30 S, sejarah kaum
Kiri di Indonesia hingga lahirnya negara Orde Baru. Kedua buku itu
juga bersifat komplementatif satu sama lainnya. Jika dalam Yang
Berlawan, kita disuguhi data tentang peranan historis kaum Kiri dan
bagaimana mereka dihancurkan, sementara dalam Tragedi Manusia dan
Kemanusiaan kita akan dimanjakan oleh kekayaan data dan ketajaman
analisis tentang peristiwa G 30 S, dan peristiwa-peristiwa yang
menyelubunginya, yang terjadi jauh sebelum dan sesudah terjadinya
peristiwa itu.

Mengapa peristiwa 65-66 perlu terus dikaji? Karena, seturut ungkapan
Ariel Heryanto, dari peristiwa 65-66-lah tonggak sejarah peradaban
Indonesia mulai bergeser dan berubah. Disitulah kunci untuk memahami
perubahan sosial, politik, ekonomi  dan kebudayaan yang terjadi pada
Indonesia saat ini. Tak mungkin membicarakan Indonesia modern tanpa
membicarakan tentang peristiwa 65-66!.

Buku ini tidak distribusikan di toko-toko reguler jejaring resist.
Untuk mendapatkannya:
1 Pembelian secara on line via email: resistbook@gmail.com
2 Bazar buku Resist book


www.resistbook.or.id sudah bisa diakses!

pesan via email atau SMS (0274) 7422 761

RESISTBOOK
Kantor – Toko Buku
Jl. Magelang km 5 Gang Bima No. 39
Kutu Dukuh Sleman Yogyakarta 55284
Telp./Faks. (+62-274) 580 439, SMS 7422 761
Email resistbook@gmail.com

Komentar»

1. Agung Pindang - Juli 19, 2007

Buku ini pertama kali saya baca, berupa bentuk copy stensilan tahun 1996.
Buku ini asyik, meski mata ini capek kalo memcaanya sebab tulisannya banyak yg kabur hingga dibutuhkan konsentrasi lebih.
Sokur deh kl buku ini bisa diterbitkan lagi.
Sbab kala saya kuliah, buku ini nggak bakalan semudah sekarang mendapatkannya.
Buku ini cocok bagi kita sebagai bangsa yg pernah melakukan tindakan barbar, dan mau bertobat untuk tak khan mengulanginya lagi
Semoga……………………………..

2. adiene - Juli 16, 2008

alhamdulillah,buku itu saya baca meskipun dalam bayang2 Ancaman dari si empunya buku.cetakan 1992 yang saya baca ditahun pertengahan 1996 dan menjelang reformasi pecah.
Sang penulis rupanya punya data-data yang valid tentang sejarah indonesia yang isinya cocok dng judul buku,terlebih saya belum percaya kalau ada foto copy visum et revertum yang tercetak di buku itu,benar2 valid.
Bagi penggemar buku yang pasti pembacanya juga jangan takut untuk membaca buku itu,ada intensitas lebih ketika mambacanya dan hati kecil akan berkata “medeka atau mati” dengan iman bahwa tuhan Allah itu ada.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: