jump to navigation

Jurnalisme Untuk Flu Burung Juni 21, 2007

Posted by jrki in Jurnalisme.
trackback

flu-burung.jpgflu-burung.jpgdemonstr.jpg

“Belum ada jurnalis kesehatan yang punya pemahaman akurat tentang masalah-masalah kesehatan” hal itu terungkap ketika diskusi dengan Dan Rutz, wartawan CNN dari Center for Diseases Control and Prevention (CDC) USA, pembicara pada diskusi ‘Strategi Pengelolaan Issue Flu Burung & Penyakit Menular Lainnya Sesuai Dengan Standar Internasional’ Hari Kamis, 21 Juni 2007 di RSG Unpad Dipatiukur.
Dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Unpad, USA Embasy, dan FDWB itu terungkap pula bahwa jurnalis seringkali membangun kepanikan massa terhadap sebuah isu tertentu termasuk wabah Flu Burung ini. Hal tersebut terjadi karena pemahaman terhadap sebuah isu tertentu tidak akurat.
Untuk membuat sebuah pemberitaan tentang flu burung harus dipakai prinsip pencarian data yang melibatkan banyak stakholder supaya tidak terjadi pemberitaan yang merugikan pihak tertentu. Karena isu flu burung akan mempengaruhi selain persoalan kesehatan juga hubungan sosial dan ekonomi.
Strategi Pengerasan Fakta
Fakta media (berita) memang tak lagi sekedar cermin atau pantulan dari realita. Jurnalis dengan dengan segala subjektifitasnya mendefinisikan realita sesuai dengan perspektif dan kepentingan mereka. Jurnalis secara sadar melakukan proses pembingkaian ketika merekonstruksi realitas. Pembingkaian adalah proses seleksi berbagai aspek realitas dan menjadikan realitas hasil seleksi itu menjadi lebih menonjol dalam pemberitaan. Penonjolan aspek realitas atau isu ditujukan agar informasi menjadi lebih menarik pembaca.
Dalam proses konstruksi realitas, bahasa adalah unsur utama. Ia merupakan instrumen utama untuk menceritakan realitas. Bahasa adalah alat konseptualisasi dan alat narasi. Begitu pentingnya bahasa, maka tak ada berita, cerita, ataupun ilmu pengetahuan tanpa bahasa. Selanjutnya penggunaan bahasa (simbol) tertentu menentukan format narasi (dan makna) tertentu. Sedangkan jika dicermati secara teliti, seluruh isi media entah media cetak ataupun media elektronik menggunakan bahasa, baik bahasa verbal (kata-kata tertulis atau lisan) maupun bahasa non-verbal (gambar, foto, gerak-gerik, grafik, angka, dan tabel).
Melalui pilihan diksi, pers membingkai suatu peristiwa sehingga menghasilkan fakta media (berita), yang bisa menggiring publik untuk memaknai fakta media tersebut sesuai dengan kepentingan pers. Dalam konteks liputan wabah flu burung, bingka pemberitaan yang menonjol adalah penggambaran pers tentang kepanikan warga dan pejabat publik. Ada beberapa strategi pemberitaan yang dilakukan pers untuk membangun bingkai pemberitaan yang menakut-nakuti tersebut. Berikut beberapa contoh kutipan teks berita tersebut:

“Penyakit flu burung (avian influenza) makin mengganas. Setelah Iwan Siswara Repel (petugas auditor BPK) dan kedua putrinya meninggal beberapa waktu lalu, kini korban terus berjatuhan. Rini Dinar (37), warga Petukangan Utara, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, juga menjadi korban keganasan virus ini” (Jawa Pos, 27/9/06).

Kata “mengganas” dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI), berarti menyerang dan mengamuk dengan hebatnya. Pilihan kata “mengganas” menggiring pada pemahaman bahwa virus flu burung tidak dapat dikendalikan dan akan menyerang siapa saja serta mematikan. Lihat misalnya kalimat atributif yang menerangkan sifat virus flu burung yang “ganas” tersebut: “….kini korban terus berjatuhan.” Kalimat atributif sepert iini hendak mempersuasi publik bahwa satu per satu warga meninggal akibat tertular virus flu burung.
Padahal fakta sebenarnya, secara medis penularan virus flu burung dapat dihindari dan dicegah. Misalnya dengan menjaga daya tahan tubuh seseorang dengan cara memakan makanan bergizi dan istirahat yang cukup. Upaya lain yaitu dengan mengolah atau memasak unggas dengan cara yang benar, yaitu dengan memilih unggas yang sehat (tidak terdapat gejala-gejala penyakit pada tubuhnya). Juga memasak daging ayam atau unggas sampai suhu kurang lebih 80 derajat celcius selama satu menit, dan pada telur sampai dengan suhu kurang lebih 64 derajat celcius selama 4,5 menit (Sumber: http://www.depkes. go.id).

“Untuk membendung penyebaran flu burung, petugas kesehatan harus jemput bola. Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari meminta Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) menangkap pasien flu burung. Hal itu disampaikan Menkes seusai peluncuran pemurni air minum Rahmat di kantor Menko Kesra, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (28/2)”.

Kata “menangkap”, walau jurnalis hanya mengutip pernyataan narasumber, selain kurang tepat dikenakan pada seseorang yang diindikasikan tertular virus flu burung, juga dapat membangun pemahaman seolah orang tersebut adalah pelaku kriminal. Atau orang yang disangka melakukan suatu kejahatan. Seseorang yang terkena virus flu burung jelas bukan pelaku kejahatan. Mereka adalah korban dari ketidakmampuan negara dalam melindungi kesehatan warganya dari serangan virus berbahaya. Dengan demikin korban adal person yang membutuhkan simpati dan empati, bukan malah diperlakukan seperti pelaku kejahatan. Apalagi korban di sini adalah person yang secara pribadi sebenarnya tidak menghendaki tertular virus flu burung.
Pers seharusnya bisa selektif ketika mengutip pernyataan narasumber, sekalipun narasumber itu seorang menteri. Soalnya seorang menteri, walaupun memiliki komptensi dibidangnya, namun juga tidak luput dari kesalahan. Namun di kalangan jurnalis, masih sering muncul pemahaman bawa setiap pernyataan narasumber adalah fakta. Hal ini ditambah dengan warisan langgam kerja lama yang selalu menampik fakta-fakta lain di luar sumber otoritas resmi sebagai fakta yang “tidak benar” Akibatnya prinsip verifikasi diabaikan. Namun di sisi lain, hal ini juga memperlihatkan tentang etos kerja jurnalis yang masih rendah.
Ada juga contoh kutipan teks berita yang lain:

“Komisi B DPRD Sumut sangat berang melihat kinerja Kadistan (Kepala Dinas Peternakan) Sumut yang tidak becus menangani virus flu burung, sehingga bisa `lolos’ memasuki daerah ini, padahal pencegahannya telah dianggarkan dalam APBD Sumut TA 2004 sebesar Rp 12 miliar”.

Dari teks berita tersebut, pers sebenarnya hendak menggambarkan kekecewaan Sekretaris dan seorang anggota Komisi B DPRD Sumut terhadap kinerja Kepala Dinas Peternakan Sumut, yang dipandang tidak bisa mencegah masuknya virus flu burung ke Sumatera Utara. Padahal menurut mereka, Pemprov Sumut telah menganggarkan dana Rp 12 miliar untuk melakukan pencegahan penyebaran virus flu burung.
Sudah tentu, kecewa berbeda artinya dengan berang. Sebab menurut KUBI berang artinya sangat marah, atau sangat gusar. Jika dalam lead jurnalis menurunkan kata sangat berang, itu artinya publik memahami bahwa anggota dan sekretaris Komisi B itu sangat-sangat berang! Bingkai pemberitaan seperti ini digunakan pers untuk menonjolkan bahwa anggota dewan juga sebenarnya dilanda kepanikan dengan masuknya virus flu burung ke Sumut. Karenanya mereka menjadi sangat-sangat berang!
Simak juga kutipan teks berita berikut ini:

“Walau wakil presiden dan para menteri sudah mempromosikan makan ayam, tapi flu burung masih menjadi momok di negeri ini. Kemarin, Sayuti, 32 tahun, seorang guru Tsnawiyah di Percutseituan, dilarikan ke RSUP H Adam Malik karena dicurigai mengidap penyakit yang disebabkan virus avian influenza tersebut”. (Sumut Pos, 3/8/05)

Momok menurut KUBI berarti: pertama, hantu untuk menakut-nakuti anak, kedua sesuatu yang menakutkan karena berbahaya, ganas. Virus flu burung jelas bukan hantu, ia adalah fakta medis berupa virus, yang memang berbahaya bagi manusia, khususnya jika kondisi tubuh seseorang tidak dalam keadaan bugar. Penularannya juga bukan tanpa bisa dicegah. Soalnya virus ini hanya menular dari unggas ke unggas, dan dari unggas ke manusia, melalui air liur, lendir dari hidung dan feces. Penyakit ini dapat menular melalui udara yang tercemar virus HSN1 yang berasal dari kotoran atau sekreta burung/unggas yang menderita flu burung. Penularan dari unggas ke manusia juga dapat terjadi jika bersinggungan langsung dengan unggas yang terinfeksi flu burung.
Pers juga sering memunculkan kata “dicurigai” yang dilabelkan pada seseorang yang diindikasikan (suspect) tertular virus flu burung. Pilihan diksi semacam ini sebenarnya dapat membangun kesan negatif pada korban. Mirip seperti kata “menangkap”, korban justru akhirnya diperlakukan seperti penjahat. Istilah lain yang sering digunakan untuk mengkonstruksi seorang yang meninggal karena virus flu burung adalah “tewas”. Misalnya seperti judul headline berikut: “Keluarga Iwan Tewas Kena Flu Burung, 350 orang Terus Dipantau” (Sumut Pos, 21/7/OS).
Kata tewas biasanya digunakan pers untuk prajurit atau gerilyawan yang meninggal di medan perang. Atau untuk mereka yang meninggal akibat kecelakan, atau terkena bencana alam. Pilihan kata tewas untuk merepresentasikan fakta meninggalnya keluarga Iwan akibat firus flu burung selain tidak berempati terhadap korban, juga membangun nuansa kengerian di benak publik tentang virus flu burung.
Strategi pengerasan fakta, lewat pilihan diksi yang kerap melebih-lebihkan fakta yang sebenarnya, secara jurnalistik memang mampu merebut perhatian publik. Namun pengerasan fakta di sisi lain juga dapat menimbulkan efek kepanikan publik. Politik pemberitaan seperti ini sebenarnya berkebalikan dengan yang umumnya dilakukan pers sewaktu hidup di era orde baru. Dulu pers kerap memunculkan eufimisme dalam merepresentasikan fakta yang mereka tulis. Akibatnya publik kerap dipaksa untuk membaca suatu peristiwa dibalik kata-kata resmi yang tercetak (read between the line).
Generalisasi Fakta
Strategi lain yang dilakukan pers adalah melakukan generalisasi atau asimilasi bahasa untuk memberikan efek berlebihan saat menggambarkan objek liputannya. Ketika memberitakan seorang warga di Desa Percut Seituan terindikasi virus flu burung, pers menurunkan judul berita seperti berikut: “Warga Percut Seituan Diduga Kena Flu Burung” (Sumut Pos, 3/4/06). Ketika objek berita yang hanya satu orang direpresentasikan sebagai “warga”, maka publik pembaca bisa memiliki kesan bahwa yang terkena virus flu burung adalah seluruh warga Percut Seituan.
Judul judul berita yang bias dan membangun kesan objek menjadi sangat besar juga didapati dalam judul judul berita berikut ini: “Terindikasi Ada Flu Burung di Tanah Karo” (SIB, 5/4/06). Berita tersebut sebenarnya menginformasikan tentang seekor ayam yang mendadak mati di sentra produksi yang ada di Kecamatan Juhar dan Tigabinanga, Kecamatan Kabanjahe. Berdasarkan hasil pemeriksaan darah ayam tersebut memang terindikasi terserang virus flu burung. Namun membaca judul berita SIB, yang terbangun di benak publik adalah seluruh daerah di Tanah Karo sudah terindikasi penyebaran virus flu burung.
Seperti sudah disinggung sebelumnya, generalisasi fakta pada hakikatnya menunjukkan adanya bias representasi terhadap fakta yang diliput pers. Dengan melakukan generalisasi fakta, efek yang hendak dibangun pers adalah persuasi bahwa penyebaran virus flu burung sudah meluas. Biasa representasi fakta di sisi lain juga memperlihatkan bahwa paradigma yang dianut pers memang belum beranjak dari kepentingan komodifikasi informasi dalam rangka bertahan dari persaingan pasar media yang ketat.
Generalisasi fakta, misalnya melalui pemunculan nominalisasi, biasanya dilakukan oleh elit politik ketika mereka terlibat dalam kontestasi politik. Misalnya seorang politikus dari partai politik yang berideologi agama tertentu, ketika secara individual terlibat dalam perseteruan politik, untuk menambah bobot representasi kepentingan politiknya, ia mengklaim bahwa umat agama tertentu tersinggung dengan pernyataan politik dari lawan politiknya.

Identias Korban
Beberapa pemberitaan yang dikaji juga menunjukkan kecenderungan adanya upaya pers untuk menulis identitas korban secara lengkap. Misalnya berita seorang warga di Percut Seituan yang terindikasi virus flu burung, selain disebutkan namanya secara lengkap, juga disebut tempat dimana korban tinggal (nama kecamatan, kelurahan clan lingkungan). Penyebutan identitas korban secara rinci, selain mengganggu psikologis korban dan keluarganya, juga dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Di tengah masyarakat yang masih banyak didominasi cara berpikir yang kurang rasional, hal-hal yang tidak diharapkan bukan mungkin tidak terjadi pada korban.
Di sisi lain, asas keterbukaan yang menjadi ruang bagi media pers, sering disalahrtikan. Seolah-olah jurnalis berhak untuk mengaduk-aduk fakta privat korban untuk dijadikan informasi publik. Persoalannya, jurnalis sering mencampurbaurkan antara fakta personal dan fakta publik. Fakta personal merupakan domain dengan hak yang melekat secara asasi pada person bersangkutan. Seseorang memiliki hak sepenuhnya untuk menentukan apakah fakta personalnya boleh atau tidak boleh diceritakan kepada orang lain (Ashadi Siregar: 2002).
Sebenarnva kaidah jurnalisme sudah memberikan batasan sejauhmana sesungguhnya suatu takta personal boleh menjadi informasi media. Pertama dari aspek etis, menyangkut person yang bersangkutan, yaitu adanya kerelaan atau kesetujuan untuk terpublikasi. Kedua, dengan format berita yang biasa disebut sebagai human interest story. Sayangnya, human story sering dilihat hanya sebagai cerita personal yang menarik. Padahal menurut Ashadi Siregar, huma story sebenarnya dapat dikaitkan dengan tujuan jurnalisme, yaitu menyadarkan masyarakat akan fakta-fakta sosial, dan pada dataran kultural dapat mengasah penghayatan warga akan kehidupan manusia (Ashadi Siregar: 2002, hlm 45). Namun dalam banyak pemberitaan, jurnalis seolah abai dalam hal ini. Bagi jurnalis, penderitaan seseorang seringkali justru menjadi sumber komodifikasi informai, yang akhirnya mengabaikan empati kemanusiaan jurnalis terhadap korban sebagai manusia.

Pemberitaan Model Jarum Suntik
Dalam konteks untuk mencerdaskan rakyat, pers memiliki peranan yang strategis dalam mendorong rakyat untuk mengasah akal sehat mereka. Walau terjadi banyak perdebatan tentang dampak pemberitaan pers terhadap rakyat, namun sejumlah pakar komunikasi percaya bahwa pers bisa membentuk opini dan memperkuat keyakinan seseorang. Pemberitaan pers bisa menjadi faktor penguat atas keyakinan-keyakinan atau nilai-nilai yang dianut seseorang atau masyarakat.
Eksposing pers yang berlebihan terhadap pemberitaan virus flu burung, di satu sisi selain bisa mendorong terjadinya eskalasi kepanikan pembaca, juga dapat mendorong rakyat untuk melakukan tindakan-tindakan yang kurang proporsional.
Sebagai contoh ketika merebak penyebaran virus SARS sekitar tahun 2003. Pers memberitakan perilaku “aneh” sejumlah warga di Batam yang beramai-ramai menempatkan ramuan cuka dan bawang putih di pintu dan ventilasi rumah mereka agar terhindar dari virus SARS! Sekelompok masyarakat lain berusaha mencegah SARS dengan meminum minuman rebusan air kacang ijo dicampur gula aren, menghirup uap cuka putih dan rebusan kacang hijau dan ketela. Bahkan ada ada ada yang mengatakan SARS dapat dicegah dengan minum urine sendiri.
Secara medis vaksin penangkal virus SARS memang belum ditemukan. Namun belum juga ada yang membuktikan bahwa cuka putih, rebusan kacang hijau, lobak dan campuran cuka, serta bawang putih dapat menangkal virus SARS. Yang jelas, secara medis rebusan kacang hijau dan ketela berfungsi meningkatkan daya tahan tubuh karena mengandung vitamin B dan C, serta memiliki protein yang tinggi.
Munculnya reaksi yang berlebihan, yang dilakukan sejumlah warga yang panik dengan merebaknya virus SARS, jelas karena mereka kurang memperoleh informasi yang benar dari pers. Disamping itu, bingkai pemberitaan pers memang lebih menonjolkan untuk menakut-nakuti rakyat waktu itu. Simak misalnya judul judul berita berikut ini. “Seluruh warga Indonesia Diimbau Tidak Bepergian Ke Singapura. Ayah, Ibu, dan Adik dari Pelajar Warga Yang Tewas juga Terkena Virus SARS” (Sinar Indonesia Baru, 1/4/03), “Pengawasan Kesehatan Di Bandara Longgar, Warga Medan Terancam SARS. Diskes T. Balai Siaga I Antisipasi SARS” (Waspada. 1/4/03). “Ribuan Penumpang Kapal Sinabung Ketakutan Penderita SARS” (Analisa, 8/4/03). “Masker bukan Jaminan. SARS Tetap Bisa Menembus dan Masuk ke Mulut atau Hidung” (Sumut Pos, 2/4/03).

Penutup
Bingkai pemberitaan yang membangun ketakutan pembaca melalui strategi pengersan fakta dan generalisasi fakta, jelas bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Jurnalis bekerja dan menjadi bagian dari institusi sosial yang juga tidak dapat dipisahkan dari kepentingan bisnis: institusi pers. Tarik menarik antara kekuatan kapitalisme media seringkali mengorbankan fungsi pers sebagai institusi sosial. Persaingan antar media yang semakin sengit, apalagi sejak reformasi jumlah media pers bertambah drastis, menjadikan pemberitaan sejumlah media pers Iebih banyak mengedepankan sensasi, bombabtis dan mendramatisir realitas.
Akibatnya informasi pers tidak lagi memberikan pencerahan, atau mendorong publik untuk berpikir dan bertindak secara rasional. Ketika kepentingan komodifikasi lebih kuat dibanding kepentingan sosial pers untuk memberikan informasi yang kritis, pada hakikatnya pers telah kehilangan sisi yang paling fundamental dari dimensi kebebasan pers: freedom for? Ya, pers sekarang ini sudah bebas (freedom from), tapi bebas untuk apa?
Bebas untuk meliput dan memberitakan penderitaan korban yang disangka terkena virus flu burung, SARS, HIV/AIDS semata sebagai komoditas informasi? Atau menjadikan korban sebagai pintu masuk bagi lahirnya jurnalisme yang digerakkan oleh pengharapan akan masa depan yang lebih baik? Bahwa teknologi medis akan selalu menjanjikan untuk membawa kehidupan manusia yang lebih baik lagi.

Iman Abda, dari hasil diskusi dan sumber lainya.

Komentar»

1. kalista - November 14, 2009

ga ada arti lambang burung pos indonesia yah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: